Monday, January 28, 2019

Siapin Jawaban Ke Allah Sebelum Minta Jodoh


Kalau hanya mencari yang pantes dibawa jalan, nggak usah istri, kawan te-te-em juga bisa. Kalau sekedar buat baper-baperan, nggak perlu istri, yang pacaran juga bisa

Kalau nggak mau pake tanggung jawab, pacaran aja. Kalau cuma sekedar nganter-nganter, abang ojek juga mau. Cuma ngasi makan? ayah ibu nggak kurang

Kalau cuma bikin scene mesra ndeso, udah kalah start ama film India. Bikin scene romantis ala milenial, drakor udah duluan, hidup kita? Nggak ada waktu buat drama

Apalagi cuma nyari nikmat badan, wuedyann.. ini nggak ada bedanya ama kucing di musim kawin kali, banyak lagu pas ada mau, pas udah selesai dia ngaciro ke kolam

Kita manusia bro-sis, masak sih mau selevel ama kucing piaraan? Kayaknya punya pasangan harusnya lebih dari semua yang diatas deh, harusnya ada something noble

Beristri dan bersuami, itu selain pindah fase, harusnya juga buat kita naik kelas dong. Masak sama kayak cabe-cabean yang nggak naik kelas jadi sambel?

Kebaikan kita nambah nggak? Semangat kita nambah nggak? Manfaat kita nambah nggak? Taat kita nambah nggak? Istri kita.. ehh.. nggak-nggak, nggak jadi

Lah kalau, semua yang kita lakukan nggak ada beda dengan yang belum nikah, itu standar banget. Nikah bukan cuma lingkaran baper-laper-mager-caper

Yaa katanya sih, tiap yang Allah tambahin ke kita, pasti Allah minta tanggung jawabnya. Dulu kita sendiri, lalu kalau sudah berdua, ya adalah tanggung jawabnya

Pertanyaannya nih, sebelum kita minta jodoh ke Allah, siapa tau terkabul, ini kan musim ujan. "Kenapa Allah harus kasih jodoh ke kita?", itu dulu dijawab

Supaya kita bener-bener paham arti "mencinta karena Allah", supaya pernikahan itu jadi jalan ketaatan bagi kita, bukan jalan untuk nambah fitnah apalagi maksiat

Tuesday, January 15, 2019

Visi Istiqamah

    Jangan pernah sekalipun berpikir bahwa kita selama-lamanya akan istiqamah. Sebab istiqamah itu keadaan, bukan kepemilikan, ia bisa datang dan pergi

Ada yang 50 tahun istiqamah, namun kehilangannya di tahun 51, ada yang 60, ada yang 70. Yang sulit bila sudah 80 tahun istiqamah lalu kehilangan di tahun 81 nya

Karenanya, penting bagi kita menjelaskan tentang visi hidup kita. Dari visi itulah lahir misi hidup. Do and don't in our life, guide lines, principles, core value

Mereka yang punya visi hidup, takkan terombang-ambing ombak godaan dunia, meski itu sangat menarik. Mereka yang punya visi, bisa mengelola hidup mereka

Adakalanya, visi hidup saja juga tak cukup, karena kalau hanya hidup yang jadi sandarannya, maka jabatan, harta dan wanita bisa jadi sangat menggiurkan

Maka Rasulullah memberikan pada sahabat visi akhirat. Allah mendiktekannya lewat ayat-ayatnya, silakan baca surah-surah Makkiyah, semua tentang visi akhirat

Tapi mereka yang terbatas ada visi dunia, akan berakhir tidak istiqamah, tidak sabar, tidak konsisten. Sebab dunia itu ibarat orang menyelam, cepat lambat sesak nafas

Yang jelas, yang punya visi akhirat takkan menghabiskan 80 juta untuk meniti jalan menuju ke siksa. Apalagi menghargai diri hanya 80 juta

Tulisan ini lebih kepada tulisan untuk penulis, mentransfer unek-unek di kepala agar tak jadi penyakit. Siapa tahu bisa jadi kebaikan dan inspirasi yang bermanfaat

Monday, January 14, 2019

Menelisik Hati Sendiri

 
    Hal yang paling buruk yang bisa kita lakukan pada seorang pendosa, adalah menghakiminya, lalu mencela dan memakinya, hingga dia makin jauh dari taubat

Simak kisah yang dituturkan Abu Hurairah ini, 
Didatangkan orang yang mabuk untuk dihukum, diantara kami ada yang memukulnya dengan tangan, ada yang dengan sendal dan ada juga yang memukul dengan bajunya. 
Lalu datang seorang lelaki dan berkata, "Kenapa dia? Semoga Allah menghinakan dia", kemudian

Rasulullah saw bersabda, "Janganlah kamu membantu setan untuk (menyesatkan) saudaramu" - HR Bukhari

Itu adab yang Rasul ajarkan saat kita berjumpa yang nyata-nyata bermaksiat. Lalu bagaimana bila kita berhadapan dengan yang belum tentu bermaksiat?

Tentu kita harus lebih santun lagi. Hanya saja, saat ini kebanyakan orang mendahulukan buruk sangkanya ketimbang baik sangkanya pada saudaranya

Mengupload donasi dituduh pamer, update kajian dibilang sombong, memberi nasihat agama dibilang sok suci, berdakwah dibilang riya

Padahal amal hati itu tidak ada yang mengetahui kecuali yang beramal dan Allah. Mengapa kita sibuk menghakimi amal orang lain padahal diri kita lebih pantas diperiksa?

Hati-hatilah kalian terhadap prasangka (buruk) karena prasangka (buruk) adalah perkataan yang paling dusta - HR Muslim

Bantulah saudaramu, bila mereka bermaksiat, tuntun mereka ke jalan kebaikan. Bila mereka terindikasi riya, nasihati jangan dimaki apalagi dicaci

Kecuali, jangan-jangan diri kita yang dipenuhi hasad, iri dan dengki. Hingga kita tak bisa melihat kebaikan dan kebahagiaan orang lain, hingga kita penuh prasangka

Ya Allah, berikan kami hati yang lembut, hingga bisa menghargai kebaikan meski kecil, dan menelisik lebih dalam dosa dalam diri, meski itu juga kecil

Sunday, January 13, 2019

Yang Lebih Berbahaya Dari 80 Juta


Saya membaca tentang kasus 80 juta, dan saya tak hendak mengomentari pelakunya. Saya berdoa semoga ini jadi jalan taubat baginya

Bagi saya, ada yang jauh lebih berbahaya, yakni komentar-komentar tentang kasus itu, ini yang ingin saya bahas pada tulisan ini

Nakal itu ada dua, nakal kelakuan dan nakal pemikiran. Nakal kelakuan itu seperti anak kecil, sebabnya tak paham atau karena memang lalai. Biasanya nakal jenis ini spontanitas, dan polanya tak berulang

Beda dengan nakal pemikiran, ini lebih berbahaya, sebab dia konseptual, bentuknya ide, seperti virus, menjangkiti dan menyebar, menyebabkan pola kemaksiatan, dan tidak hanya nakal sendiri, dia mencari pengikut untuk sama-sama nakal

Nakal kelakuan berakhir dengan penyesalan, tapi nakal pemikiran mencari pembenaran, bahkan mengarang alasan. Nakal pemikiran menyebabkan orang merasa wajar dengan kenakalan itu, sedang nakal kelakuan berakhir dengan tangisan dan pinta maaf

Bayangkan, ternyata di Indonesia, ada wanita yang berkomentar seperti ini: "Saya justru penasaran bagaimana VA membangun value/nilai dirinya, sehingga orang-orang mau membayar tinggi di atas harga pasar reguler. Padahal, seorang istri saja diberi uang bulanan 10 juta sudah merangkap jadi koki, tukang bersih-bersih, babysitter, dll. Lalu, yang sebenarnya murahan itu siapa?", begitu

Atau yang berkomentar begini: "Jgn bully yang ngangkang sekali dapet 80 jeti, elu cuma dapet mukena untuk ngangkang seumur hidup" begitu tulisnya kira-kira

Inilah bentuk nakal pemikiran. Darimana mereka dapat pola pikir semisal ini? Sebab membaca referensi feminisme, yang menghitung bahagia wanita hanya dari materi, hanya dari fisik, dan menihilkan Tuhan dan hari pembalasan

Jangan heran bila mereka semua dari kelompok yang sama, pembela penista agama, pembela kaum Nabi Luth, penentang poligami, ya itu-itu saja

Inilah pentingnya bagi semua Muslimah khususnya orangtua, memahami pentingnya Islam, agar kelak anak-anak kita tidak merendahkan wanita seperti itu

Bayangkan bagaimana sakitnya perasaan orangtua mereka, saat pernikahan diremehkan dan dihinakan begitu rupa, perzinaan dianggap lebih hebat dari pernikahan

Sumber: ustad felix siaw (ig)