Monday, January 28, 2019

Siapin Jawaban Ke Allah Sebelum Minta Jodoh


Kalau hanya mencari yang pantes dibawa jalan, nggak usah istri, kawan te-te-em juga bisa. Kalau sekedar buat baper-baperan, nggak perlu istri, yang pacaran juga bisa

Kalau nggak mau pake tanggung jawab, pacaran aja. Kalau cuma sekedar nganter-nganter, abang ojek juga mau. Cuma ngasi makan? ayah ibu nggak kurang

Kalau cuma bikin scene mesra ndeso, udah kalah start ama film India. Bikin scene romantis ala milenial, drakor udah duluan, hidup kita? Nggak ada waktu buat drama

Apalagi cuma nyari nikmat badan, wuedyann.. ini nggak ada bedanya ama kucing di musim kawin kali, banyak lagu pas ada mau, pas udah selesai dia ngaciro ke kolam

Kita manusia bro-sis, masak sih mau selevel ama kucing piaraan? Kayaknya punya pasangan harusnya lebih dari semua yang diatas deh, harusnya ada something noble

Beristri dan bersuami, itu selain pindah fase, harusnya juga buat kita naik kelas dong. Masak sama kayak cabe-cabean yang nggak naik kelas jadi sambel?

Kebaikan kita nambah nggak? Semangat kita nambah nggak? Manfaat kita nambah nggak? Taat kita nambah nggak? Istri kita.. ehh.. nggak-nggak, nggak jadi

Lah kalau, semua yang kita lakukan nggak ada beda dengan yang belum nikah, itu standar banget. Nikah bukan cuma lingkaran baper-laper-mager-caper

Yaa katanya sih, tiap yang Allah tambahin ke kita, pasti Allah minta tanggung jawabnya. Dulu kita sendiri, lalu kalau sudah berdua, ya adalah tanggung jawabnya

Pertanyaannya nih, sebelum kita minta jodoh ke Allah, siapa tau terkabul, ini kan musim ujan. "Kenapa Allah harus kasih jodoh ke kita?", itu dulu dijawab

Supaya kita bener-bener paham arti "mencinta karena Allah", supaya pernikahan itu jadi jalan ketaatan bagi kita, bukan jalan untuk nambah fitnah apalagi maksiat

Tuesday, January 15, 2019

Visi Istiqamah

    Jangan pernah sekalipun berpikir bahwa kita selama-lamanya akan istiqamah. Sebab istiqamah itu keadaan, bukan kepemilikan, ia bisa datang dan pergi

Ada yang 50 tahun istiqamah, namun kehilangannya di tahun 51, ada yang 60, ada yang 70. Yang sulit bila sudah 80 tahun istiqamah lalu kehilangan di tahun 81 nya

Karenanya, penting bagi kita menjelaskan tentang visi hidup kita. Dari visi itulah lahir misi hidup. Do and don't in our life, guide lines, principles, core value

Mereka yang punya visi hidup, takkan terombang-ambing ombak godaan dunia, meski itu sangat menarik. Mereka yang punya visi, bisa mengelola hidup mereka

Adakalanya, visi hidup saja juga tak cukup, karena kalau hanya hidup yang jadi sandarannya, maka jabatan, harta dan wanita bisa jadi sangat menggiurkan

Maka Rasulullah memberikan pada sahabat visi akhirat. Allah mendiktekannya lewat ayat-ayatnya, silakan baca surah-surah Makkiyah, semua tentang visi akhirat

Tapi mereka yang terbatas ada visi dunia, akan berakhir tidak istiqamah, tidak sabar, tidak konsisten. Sebab dunia itu ibarat orang menyelam, cepat lambat sesak nafas

Yang jelas, yang punya visi akhirat takkan menghabiskan 80 juta untuk meniti jalan menuju ke siksa. Apalagi menghargai diri hanya 80 juta

Tulisan ini lebih kepada tulisan untuk penulis, mentransfer unek-unek di kepala agar tak jadi penyakit. Siapa tahu bisa jadi kebaikan dan inspirasi yang bermanfaat

Monday, January 14, 2019

Menelisik Hati Sendiri

 
    Hal yang paling buruk yang bisa kita lakukan pada seorang pendosa, adalah menghakiminya, lalu mencela dan memakinya, hingga dia makin jauh dari taubat

Simak kisah yang dituturkan Abu Hurairah ini, 
Didatangkan orang yang mabuk untuk dihukum, diantara kami ada yang memukulnya dengan tangan, ada yang dengan sendal dan ada juga yang memukul dengan bajunya. 
Lalu datang seorang lelaki dan berkata, "Kenapa dia? Semoga Allah menghinakan dia", kemudian

Rasulullah saw bersabda, "Janganlah kamu membantu setan untuk (menyesatkan) saudaramu" - HR Bukhari

Itu adab yang Rasul ajarkan saat kita berjumpa yang nyata-nyata bermaksiat. Lalu bagaimana bila kita berhadapan dengan yang belum tentu bermaksiat?

Tentu kita harus lebih santun lagi. Hanya saja, saat ini kebanyakan orang mendahulukan buruk sangkanya ketimbang baik sangkanya pada saudaranya

Mengupload donasi dituduh pamer, update kajian dibilang sombong, memberi nasihat agama dibilang sok suci, berdakwah dibilang riya

Padahal amal hati itu tidak ada yang mengetahui kecuali yang beramal dan Allah. Mengapa kita sibuk menghakimi amal orang lain padahal diri kita lebih pantas diperiksa?

Hati-hatilah kalian terhadap prasangka (buruk) karena prasangka (buruk) adalah perkataan yang paling dusta - HR Muslim

Bantulah saudaramu, bila mereka bermaksiat, tuntun mereka ke jalan kebaikan. Bila mereka terindikasi riya, nasihati jangan dimaki apalagi dicaci

Kecuali, jangan-jangan diri kita yang dipenuhi hasad, iri dan dengki. Hingga kita tak bisa melihat kebaikan dan kebahagiaan orang lain, hingga kita penuh prasangka

Ya Allah, berikan kami hati yang lembut, hingga bisa menghargai kebaikan meski kecil, dan menelisik lebih dalam dosa dalam diri, meski itu juga kecil

Sunday, January 13, 2019

Yang Lebih Berbahaya Dari 80 Juta


Saya membaca tentang kasus 80 juta, dan saya tak hendak mengomentari pelakunya. Saya berdoa semoga ini jadi jalan taubat baginya

Bagi saya, ada yang jauh lebih berbahaya, yakni komentar-komentar tentang kasus itu, ini yang ingin saya bahas pada tulisan ini

Nakal itu ada dua, nakal kelakuan dan nakal pemikiran. Nakal kelakuan itu seperti anak kecil, sebabnya tak paham atau karena memang lalai. Biasanya nakal jenis ini spontanitas, dan polanya tak berulang

Beda dengan nakal pemikiran, ini lebih berbahaya, sebab dia konseptual, bentuknya ide, seperti virus, menjangkiti dan menyebar, menyebabkan pola kemaksiatan, dan tidak hanya nakal sendiri, dia mencari pengikut untuk sama-sama nakal

Nakal kelakuan berakhir dengan penyesalan, tapi nakal pemikiran mencari pembenaran, bahkan mengarang alasan. Nakal pemikiran menyebabkan orang merasa wajar dengan kenakalan itu, sedang nakal kelakuan berakhir dengan tangisan dan pinta maaf

Bayangkan, ternyata di Indonesia, ada wanita yang berkomentar seperti ini: "Saya justru penasaran bagaimana VA membangun value/nilai dirinya, sehingga orang-orang mau membayar tinggi di atas harga pasar reguler. Padahal, seorang istri saja diberi uang bulanan 10 juta sudah merangkap jadi koki, tukang bersih-bersih, babysitter, dll. Lalu, yang sebenarnya murahan itu siapa?", begitu

Atau yang berkomentar begini: "Jgn bully yang ngangkang sekali dapet 80 jeti, elu cuma dapet mukena untuk ngangkang seumur hidup" begitu tulisnya kira-kira

Inilah bentuk nakal pemikiran. Darimana mereka dapat pola pikir semisal ini? Sebab membaca referensi feminisme, yang menghitung bahagia wanita hanya dari materi, hanya dari fisik, dan menihilkan Tuhan dan hari pembalasan

Jangan heran bila mereka semua dari kelompok yang sama, pembela penista agama, pembela kaum Nabi Luth, penentang poligami, ya itu-itu saja

Inilah pentingnya bagi semua Muslimah khususnya orangtua, memahami pentingnya Islam, agar kelak anak-anak kita tidak merendahkan wanita seperti itu

Bayangkan bagaimana sakitnya perasaan orangtua mereka, saat pernikahan diremehkan dan dihinakan begitu rupa, perzinaan dianggap lebih hebat dari pernikahan

Sumber: ustad felix siaw (ig)

Sunday, April 29, 2018

Proses


Setiap apapun yang kita kerjakan pasti membutuhkan proses, tidak ada yang instan bahkan mei instanpun perlu proses sebelum bisa benar-benar memakannya

Berbica tentang proses pastilah kita pernah mengalami yang namanya proses dan dari proses itulah kita bisa belajar tentang apa yang kita pelajari
Dari mana kita memulainya kemana arahnya dan endingnya seperti apa?

Apapun yang kita kerjakan pasti ada prosesnya dan kita harus melalui proses tersebut tidak ada satu orangpun yang tidak melalui proses
manusia sendiripun melalui proses, mulai dari bayi, anak-anak, dewasa, tua, dan mati
tidak ada yang lepas dari proses itu

Maka dari itu kita mengambil kesimpulan apapun yang kita kerjakan pasti ada prosesnya tekuni proses itu maka kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan
apapun itu asalkan kita tetap teguh dalam menjalani proses pasti tercapai.

Wednesday, April 5, 2017

Kosong dan nol sama ngak sih?

Jadi ceritanya lagi nyalain radio mobil.. Lalu ada sekelebat iklan yang dibacakan oleh penyiar radionya kurang lebih seperti ini, "....untuk pemesanan dan keterangan lebih lanjut, hubungi 0312xxx.."
Announcer / penyiar radio tsb mengucapkan nomor telepon itu dengan : kosong-tiga-satu-dua-dst..dst..

Cara pengucapannya keliru.

Hingga hari ini masih banyak media televisi
dan radio di Indonesia yang nampaknya belum
paham penyebutan angka "0" (nol) sehingga
mereka menyamakannya dengan "kosong".
Contoh yang paling sering dijumpai adalah
pengucapan nomor telepon genggam yang
mengandung angka nol seperti contoh diatas.

Kalau kita bertanya-tanya, angka 0 (nol) dengan
kosong tidak ada bedanya. Tetapi jangan salah.
Terkadang juga suka ada kekeliruan dengan kedua kata tersebut.

Menyebut angka "0" sebagai "kosong" secara
terminologi definisi kata Bahasa Indonesia tidak tepat. Alasannya ? Jelas sekali karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata "kosong" diartikan sbb :
1. tidak berisi : peti -- itu rupanya menjadi sarang tikus.
2. tidak berpenghuni : rumah itu sudah lama --
3. hampa, berongga : batang kangkung itu -- di dalamnya.
4. tidak mengandung arti : dia menerima bunga yang kupetik dari pot rumah Pak RT ini dengan sikap yang dingin dan pandangan yang --

Tidak ada satupun definisi "kosong" dalam KBBI yang merujuk pada penyebutan angka.

Ini berarti, jika seseorang mendiktekan nomor telepon 0312xxx dengan lafal : "kosong-tiga-satu-dua-dst", maka untuk ditulis kemudian, maka hasil tulisannya seharusnya seperti ini : [ ]312xxx, dengan simbol "[ ]" membenarkan kata vokal "kosong".
Berbeda jika angka "0" tersebut dilafalkan sesuai namanya, yaitu "nol", maka menjadi tepat jika dituliskan 0312xxx.


Ini berarti, setiap penyebutan angka "0" dalam deretan angka tertentu yang benar adalah dengan kata "nol", bukan "kosong". Sama halnya dalam Bahasa Inggris. Angka "0" dilafalkan sebagai "zero" atau "ou" yang diadaptasi dari huruf "O", bukan "empty" yang mewakili "kosong". Ironisnya, lembaga-lembaga penyiaran nasional baik teve maupun radio masih sering melakukan kesalahan sepele ini.

Nganu, sampai disini.. Ngerti kan ya ? Ya ?
Nggak ? Yaa baiklah saya jelasin dengan sederhana.

Misalnya, "nomor telepon Fidea kosong delapan
satu..." itu jelas salah, karena kosong menunjukkan tidak ada. Jadi yang tepat adalah, "nomor telepon Fidea nol delapan satu...".
Kenapa ? Ya soalnya Nol adalah angka, yang termasuk dalam garis bilangan diantara 1 dan negatif 1 (-1). Sedangkan kosong adalah kata sifat yang artinya tidak ada. Misalnya "botol ini kosong" atau
"Tanpamu, Marimar, hati ini terasa kosong..", "Aku pun begitu, Rudolfo, rasanya hampa.."

Intinya, bahwa kosong sama sekali nggak berisi & tiada bernilai, sedangkan nol memiliki isi & nilai. Bisa juga menggambarkan Kosong adalah hampa & Nol adalah Netral.

Yap, masih banyak kesalahan penggunaan bahasa
ucap maupun tulis dalam komunikasi kita sehari-hari. Semoga beberapa informasi di atas bisa memperbaiki pola pahasa vokal dan tulis kita agar tidak dicap sebagai bangsa yang tidak mengenal bahasanya sendiri dengan baik.
Terima kasih, selamat malam & terima nomor ponsel mbak-mbak manis.

Wednesday, March 29, 2017

Izinkan saya berzina dengan anak bapak

Suatu hari sepasang muda-mudi akan pergi untuk berjalan-jalan. Setibanya pemuda di rumah orang tua sang gadis untuk menjemputnya.
Gadis: Masuk dulu ya, bertemu sama ayah
Pemuda : Boleh kah?
Gadis: Masuk saja, saya bersiap-siap dulu.
Masuklah sang pemuda melalui pintu utama. Pintu yang siap terbuka mengelu-elukan kedatangan si pemuda.
Pemuda : Assalamualaikum.
Ayah Gadis : waalaikumussalam!
Mendengar lantangnya suara Ayah si gadis, si pemuda kaku membatu. Lantas si gadis menyadarkan pemuda dari lamunan itu. Entah apa yang dipikirkannya.
Gadis : Mari, silahkan duduk
Pemuda : eh.,iyaa
Setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan, duduklah si Pemuda di kursi yang hampir menghadap Ayah si gadis. Hanya koran yang menjadi ‘sitroh’ antara mereka.
Ayah Gadis : hendak jalan kemana hari ini?
Pemuda : ke Kota saja Pak, dia mau mencari barang katanya. entah barang apa saya tidak tahu.
Ayah Gadis : oh..
Pemuda : . . .
Hampir 5 menit suasana senyap tanpa suara. Dan ibu si gadis keluar dari ruang belakang membawa air dan kue kering. Si Pemuda pun tersenyum manis.
Ibu Gadis : Silahkan diminum dulu nak. Kamu sudah sarapan?
Pemuda : eh, Sudah Bu. Terima kasih.
Ibu Gadis : kamu ini malu-malu segala dengan kami.
Pemuda : saya hanya segan Bu. Hehe
Ayah Gadis : kapan kamu mau mengirim rombongan (lamaran)?
Ibu Gadis : eh, ayah ini?
Pemuda : hmm. Saya belum memiliki banyak uang Pak. Hehe
Ayah Gadis : kamu bawa anak kami kesana-kemari. Apa orang kata nanti?
Pemuda: (sebenarnya Malu dengan orang lain, serta malu dengan Allah). Setiap kami pergi kami selalu naik mobil Pak, tidak pernah berdekatan apalagi sampai bergandeng tangan. Oh iya, bisa saya tanya sedikit Pak?
Ayah Gadis : tentu saja, silahkan!
Pemuda : bapak dan ibu ingin saya menyediakan uang berapa untuk lamaran ini?
Ibu Gadis : kalau bisa Rp.20.000.000,-
Ayah Gadis : ehh, tapi kalau bisa lebih besar dari orang sebelah yang naksir juga sama gadis.
Pemuda : Maaf, Berapa itu Bu?
Ayah Gadis : Rp.40.000.000,- syukur-syukur bisa lebih
Pemuda : (Ya Allah, whhooa.. Rp.40.000.000,- darimana saya dapat uang sebanyak itu, aduh) Besar sekali Pak, apakah tidak bisa lebih sedikit, kita buat acara sederhana saja. Cukup mengudang keluarga, saudara dan tetangga dekat?
Ayah Gadis : itu nasib kamu nak, kamu yang akan menikahi anak kami. Lagipula dialah satu-satunya anak perempuan kami.
Si Pemuda pun hampir hilang akal ketika disebutkan ‘harga’ si gadis itu. Dan si Pemuda mencoba kembali berdiskusi dengan orang tua gadis pujaan hatinya.
Pemuda : Boleh saya bertanya lagi, apakah anak bapak pandai memasak?
Ayah Gadis : hmm,.boro-boro. Bangun tidur saja jam 10 lebih, bukan bangun pagi lagi itu. Habis bangun terus langsung makan siang.
Ibu Gadis : Apa sih ayahnya ini, anaknya mau dijadikan istri, dia malah cerita yang jelek-jelek.
Ayah Gadis : Ibunya pun sama suka terlambat bangun juga.
Ibu Gadis : ih ayah ini!
Pemuda: (bengong) Ehh.. iya cukup pak,
sekarang saya sudah tau. Kalau boleh bertanya lagi, bisa kah dia membaca Qur’an?
Ibu Gadis: bisa sedikit-sedikit kok
Pemuda : belajar dengan maknanya?
Ibu Gadis : mungkin.
Pemuda : hmm.
Ibu Gadis : kenapa?
Pemuda : Oh, tidak apa apa bu. Pertanyaan terakhir, apakah dia rajin sholat?
Ayah Gadis : Apa maksud kamu tanya semua ini !? Dia kan dekat dengan kamu. Harusnya kamu juga tahu.
Pemuda : Setiap sedang diluar dan saya ajak sholat, dia selalu bilang sedang datang bulan. Sedikit sedikit datang bulan. Saya jadi bingung, sebenarnya dia bisa sholat tidak.
Ayah dan Ibunya begitu kaget. Dan pada wajahnya begitu kemerahan menahan amarah.
Pemuda : Boleh saya sambung lagi. Dia tak bisa masak, tak bisa sholat, tak bisa mengaji, tak bisa menutup aurat dengan baik. Sebelum dia menjadi istri saya, dosa-dosanya juga akan menjadi dosa bapak dan ibu. Lagipula tak pantas rasanya dia dihargai Rp.40.000.000,-. Kecuali dia hafidz Qur’an 30 juz dalam kepala, pandai menjaga aurat, diri, dan batasan-batasan agamanya. Barulah dengan mahar Rp.100.000.000,pun saya usahakan untuk membayar.
Tapi jika segala sesuatunya tidak harus dibayar mahal mengapa harus dipaksakan untuk dibayar mahal ? Seperti halnya mahar. Sebab sebaik-baik pernikahan adalah serendah-rendah mahar. Mata ayah si gadis direnung tajam oleh mata ibu si gadis. Keduanya diam tanpa suara.
Sekarang ketiganya menundukkan kepala. Memang sebagian adat menjadikan anak perempuan untuk dijadikan objek pemuas hati menunjukkan kekayaan dan bermegah-megah dengan apa yang ada, terutama pada pernikahan. Adat budaya mengalahkan masalah agama. Para orang tua membiarkan bahkan menginginkan anak perempuan dihias dan dibuat pertunjukkan di muka umum.
Sedangkan pada saat akad telah dilafadz oleh suami, segala dosa anak perempuan sudah mulai ditanggung oleh si suami.
Ayah Gadis : tapi kan, ayah hanya ingin anak ayah merasakan sedikit kemewahan. Hal seperti tu kan hanya terjadi sekali seumur hidup.
Pemuda : Bapak ingin anak bapak merasakan kemewahan?
Ibu Gadis : tentulah kami berdua pun turut gembira.
Pemuda : sungguh demikian ? boleh saya sambung lagi? bapak, ibu.. saya bukanlah siapa siapa. Sekarang dosa anak Bapak, Bapak juga yang tanggung. Esok lusa setelah akad nikah terus dosa dia saya yang tanggung.
Belum lagi pasti bapak dan ibu ingin kami bersanding lama di pelaminan yang megah, anak Ibu dirias dengan riasan secantik-cantik­nya dengan make up dan baju paling mahal, di hadapan ratusan undangan agar kami terlihat mewah pula. Salain setiap mata yang memandang kami akan mendapat dosa. Apakah begitu penting hal tersebut jika dalam kehidupan sehari-hari kita malah berusaha untuk hidup sesederhana mungkin tanpa berlebih-lebihan.
Ibu si gadis segera mengambil langkah mudah dengan menarik diri dari pembicaraan itu. Si ibu tahu, si pemuda berbicara menggunakan fakta islam. Dan tidak mungkin ibu si gadis dapat melawan kata si pemuda itu.
Ayah Gadis : Kamu mau berbicara mengajari masalah agama di depan kami?
Pemuda : ehh. maaf pak. Bukan saya hendak berbicara / mengajari masalah agama. Tapi itulah hakikat. Terkadang kita terlalu memandang pada adat sampai lupa agama.
Ayah Gadis : sudah lah. Kamu sediakan Rp.40.000.000,- kemudian kita bicarakan lebih lanjut. Kalau tidak ada, kamu tak bisa kimpoi dengan anak ku!
Pemuda : Semakin lama lah hal itu. Mungkin di umur saya 30 atau lebih, saya baru bisa mengumpulkan uang tersebut dan bisa masuk meminang anak bapak.
Baiklah, .kalau memang bapak berharap tetap demikian, maka ’izinkan saya berzina dengan anak bapak’?
Ayah Gadis : hei! Kamu sudah berlebihan!, kamu jaga baik-baik omongan kamu itu.
Pemuda : dengar dulu penjelasan saya pak. Apa bapak tahu alas an orang berzina dan banyak orang memiliki anak di luar nikah? Sebab salah satunya hal seperti ini lah pak. Selalu saja orang tua perempuan menempatkan puluhan juta rupiah untuk mahar, harus menunggu si pria mempunyai pekerjaan dengan gaji begitu tinggi, sampai pihak pria terpaksa menunda keinginan untuk menikah. Tetapi cinta dan nafsu kalau tidak diwadahi dengan baik, setan yang jadi pihak ketiga untuk menyesatkan manusia.
Terlebih di zaman seperti ini yang cobaan dan kondisinya tidak seperti zaman bapak dan ibu dulu. Akhirnya mereka mengambil jalan pintas memuaskan nafsu serakah dengan berzina. Pertama memang hal yang ringan-ringan dulu pak, pegang-pegangan tangan, saling memeluk, dan sebagainya. Tapi semakin lama akan menjadi hal berat. Yang berat-berat itu bapak sendiri pun bisa membayangkan.
Ayah Gadis : lantas apa kaitan kamu dengan hendak berzina pula !?
Pemuda : Begini logikanya. Sepertinya yang terjadi dengan anak-anak lainnya. Bapak tidak memberi izin kami menikah sekarang, biar ada berpuluh juta uang dulu baru bisa menikah.
Kami hendak melepaskan nafsu bagaimana pak? setiap harinya kami mengenal lebih dekat dan semakin dewasa. Dia meminta saya menengoknya, semakin cinta saling melepas rasa rindu. Susah pak, itu Nafsu yang diberikan kepada manusia. Sebab itu saya dengan rendah hati meminta izin pada bapak untuk berzina dengan anak bapak. Terlepas apakah yang penting bapak tahu saya dan dia hendak berzina. Sebab rata-rata orang yang berzina itu orang tua tidak tau pak, tidak. Kelihatannya pemuda -pemudi zaman sekarang biasa-biasa saja padahal sebenarnya sudah pernah bahkan sering berzina. Ironisnya banyak orang menganggap hal itu tidak tabu lagi. Berzina bukan saja hal yang ehem-ehem saja. Ada zina-zina ringan, zina mata, zina lidah, zina telinga dll. Tapi sebab hal ringan itu lah yang akan menjadi berat.
Ayah Gadis : hmm. Kamu ini begitu pelik dan memperumit saja. Beruntung kamu bukan orang lain. Kalau orang lain, sudah dari tadi saya angkat parang. Begini nak, Tapi kalau tidak ada uang, bagaimana kamu akan memberi dia makan??
Pemuda : hehe. Bapak. lupakah Bapak dengan apa yang telah Allah pesankan pada kita.
“Dan menikahlah orang-orang bujang (pria dan perempuan) dari kalangan kamu, dan orang-orang yang sholeh dari hamba-hamba kamu, pria dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka. sesungguhnya karunia Allah Maha luas (rahmat dan karunianya), lagi Maha Mengetahui.” (An Nur 32).
Apakah kita tak yakin dengan apa yang Allah janjikan. Bapak dan Ibu juga pernah lah menjadi muda. Masalah datangnya harta, selagi kita terus berusaha itu adalah Rahmat-Nya yang sudah ditakdirkan pada tiap-tiap hamba-Nya. Lagipula pak, kalau makan dan minum itu Insya Allah, saya sanggup untuk memberikannya. Tempat tinggal bisa kita bicarakan lagi. Kalau hal ini bisa menghalangi kami dari melakukan dosa dan sia-sia. Apakah tidak lebih baik disegerakan. Bapak pun tak mau hal-hal tak tidak diinginkan terjadi.
Bapak si Gadis Diam tanpa kata, merenung kata – kata si pemuda, berusaha memikirkan cara untuk mematahkan kata-kata si Pemuda. Dan ayah si gadis mendapat akal.

Ayah Gadis : kamu tahu lah zaman sekarang ni. Kalau mengikuti cara kamu itu. Mungkin kamu tidak suka dengan acara persandingan yang mewah, Bapak bisa terima. Tapi kamu apa bisa menerima apa yang akan orang-orang katakan. Orang akan mengatakan anak aku ‘kecelakaan’ dan terpaksa menikah dengan kamu. Mau ditaruh dimana muka ini.
Pemuda : bagus juga pikiran bapak itu. Kalau ‘kecelakaan’ mana mau saya menikahi anak bapak. Karena akan selamanya menjadi haram, orang yang zina tidak akan pernah menjadi halal sekalipun dengan pernikahan. Kalau bapak memaksa ya sudah. Bisa ikut nikah masal kan bagus juga bisa berhemat tapi tetap ramai.
Ayah Gadis : serius lah nak!
Pemuda : begini pak, sekali lagi rasanya tidak perlu membayar puluhan juta dan mahar yang berlebihan sehingga memaksa diluar kemampuan. Tapi saya tak mengatakan tidak ada walimatul urus. Sedang walimatul urus itu tetap perlu dan disesuaikan dengan kemampuan. itu cara islam. Saya bukan hendak macam-macam dengan bapak. Syariat memang seperti itu. Maha baiknya Allah sebab masih menjaga kita selama ini, tapi hal sepele seperti ini pun kita masih memandang ringan dan kita tak percaya dengan apa yang telah Allah janjikan.
Saya benar-benar minta maaf kalau ada kata-kata saya yang membuat bapak tidak senag terhadap saya. Tidak juga bermaksud tidak takdzim dengan bapak dan ibu. Segalanya kita serahkan pada Allah, kita hanya bisa merencanakan saja.
Azan dzuhur berkumandang, jaraknya tidak sampai 10 rumah dengan rumah si gadis. Si pemuda memohon untuk ke surau dan mengajak bapak si untuk pergi bersama. Namun ajakan ditolak dengan lembut. Lantas sang pemuda memberi salam dan memohon untuk keluar.
Di pinggir jendela tua si gadis melihat si pemuda mengeluarkan kopiah dari sakunya dan segera di pakainya. Lalu masuk mobil dan hilang dari penglihatan si gadis tadi.
Sedang si gadis yang sedari tadi berdiri di balik tirai bersama ibunya meneteskan air mata mendengar curahan kata-kata si pemuda terhadap ayahnya. Kerudung lebar pemberian si pemuda sebagai hadiah padanya yang lalu digenggam erat. Ibu si gadis juga meneteskan air mata melihat pada perilaku anaknya. Segera ibu dan si gadis ke ruang tamu menghadap ayahnya.
Ibu Gadis : Apa yang anak itu katakan benar. Kita ini tak pernah memperhatikan syariat-syariat ringan agama selama ini. Terlalu melihat dunia, adat dan apa kata orang. Padahal mereka tak pernah juga peduli pada kita.
Ayah Gadis : hmm.. entahlah, ayah tak tahu. Begitu keras yang anak itu katakan tadi. Dia berpesan tadi, kamu suruh bersiap, lalu setelah dzuhur dia jemput kamu.
Gadis : sudah tidak ada semangat untuk pergi ayah. Kemudian si gadis menggapai telepon genggamnya dan mengetik pesan.
Si Pemuda yang selesai mengambil wudhu tersenyum saat membaca pesan yang baru saja diterima dari si gadis,
“Andai Allah telah memilih dirimu untukku, aku ridho dan akan terus bersama mu, apapun yang ada pada dirimu dan yang kamu miliki, aku juga akan terus pada agama yang ada padamu. Siang ini ga ada mood untuk keluar, maaf. Minggu depan ayah menyuruh kirim rombongan (lamaran) untuk ke rumah.“
Terkadang kisah seperti diatas masih saja sering terjadi. Wahai kalian pemuda dan pemudi yang dirahmati Allah, jika kalian merasa telah mampu dan yakin untuk menikah. maka segerakanlah. Sungguh- sungguh merugi orang yang menunda-nunda terhadap rahmatnya Allah.